Aspirasi / Informasi dari Anda - Lanjut
(Halaman 2)
Nama:
sany
noursaid
Dari: sumenep, madura
Saya: Kepala
Sekolah smu negeri 1 suemenep
Aspirasi /
Informasi: mohon informasi tentang segala sesuatu yang
ada hubungannya dewan pengembangan pendidikan di
kabupaten. terima kasih
E-mail Pengirim: sanynoursaid@yahoo.com
Tanggal:
11-2-2002
Nama:
ujang
supriyatna
Dari: bandung
Saya: Siswa smk n 12
bandung
Aspirasi / Informasi: Saya pesan, gaji
para pejabat supaya dibagi dengan para karyawan
kecil.....
E-mail Pengirim: endri_p@bolehmail.com
Tanggal:
12 febuari 2002
Nama:
Fety
Nurhidayati
Dari: Bandung/Jawa Barat
Saya: Siswi
Universitas Pendidan Indonesia
Aspirasi /
Informasi: Saya prihatin dengan keterpurukan Indnesia
dalam masalah pendidikan baik biaya/anggaran
pendidkan maupun kualitas pendidikannya sendiri. Yang
lebih memprihatinkan, banyak super mall yang
megah-megah yang dibangun di Jawa barat ini khusunya
Bandung sedangan di perkampungan banyak
sekolah-sekolah yang membutuhkan renovasi dan banyak pula
generasi-generasi sekarang yang membutuhkan biaya
pendidikan hal ini dapat diakibatkan kesenjangan
ekonomi yang semakin tajam jurang pemisah si kaya
dan si miskin semakin terlihat.Sebaiknya
pembangunan pembangunan itu di hentikan saja, apakah
tidak lebih baik merenovasi sekolah-sekolah selain
dapat mensejahterakan mereka juga berupaya
membangun bangsa ini !
dengan pendidikan yang berkualitas.Atau jika
pembangunan mall-mall itu sudah terlanjur saya ingin
menghimbau, liriklah rakyat-rakyat kecil di
sekitar yang hidupnya tak tercukupi bahkan nyaris tak
sekolah sebab biaya yang semakin surut, andai
mereka )(pemilik mall dan para penyimpan saham)
ikhlas mengulurkan tangan untuk mereka yang tertindas
makmurlah hidup ini selain pendidikan terus
meningkat juga mendapat pahala dari Yang Maha Kuasa.
E-mail Pengirim: nuramelida@Yahoo.com
Tanggal:
12 Februari 2002
Nama:
Isnaeni
Rodi
Dari: Blitar Jawa Timur
Saya: Guru SLTPN 3
Blitar
Aspirasi / Informasi: Saya sangat
berharap agar prioritas pendidikan sebagai prioritas
utama dalam menyusun kebijakan termasuk
pembiayaannya.
E-mail Pengirim: rodi@sltp.zzn.com
Tanggal:
16/02/2002
Nama:
Khaerul
Anwar
Dari: Bandung/Jawa Barat
Saya:
Mahasiswa Univesitas Pendidikan Indonesia
Aspirasi /
Informasi: Jika kita melihat apa yang sedang
dihadapi oleh bangsa kita sekarang ini, maka semua
orang pasti akan mengatakan bahwa solusi pemecahan
untuk masalah yang sangat kompleks ini adalah
"perbaharui sistem pendidikan kita", hal ini
menggambarkan betapa pendidikan memikul beban yang sangat
berat untuk memperbaiki semuanya, tetapi sekarang
yang jadi masalah adalah tidak selarasnya
perlakuan masyarakat khususnya pemerintah kita terhadap
pendidikan dengan apa yang harus diemban oleh
pendidikan dalam memperbaiki keadaan sekarang ini.
Kita mungkin masih ingat betapa pemerintah sangat
meng"anak tirikan" pendidikan dengan bukti
konkret minimnya nominal APBN untuk sektor pendidikan,
sangat ironis sekali khan...?, sesuatu yang
dijadikan tumpuan utama dalam pembaharuan keadaan
bangsa ini kok seakan-akan diperlakukan dengan
sewenang-wenang, dengan kata lain semua perlakuan
pemerintah terhadap pendidikan sampai saat ini adalah
perlakuan dan perhatian "sisa", ingatlah bahwa
setiap perbuatan atau usaha yang didasari oleh
hal-hal yang "sisa", maka hasilnyapun tidak akan
optimal atau dengan kata lain hasilnyapun "sisa".
Tetapi kita tidak perlu pesimis melihat keadaan
ini, menyesali keadaan tidak pernah menyelesaikan
permasalahan, yang paling penting mulai sekarang
kita perbaiki dari diri kita dahulu, karena hal
itulah yang mempunyai kekuatan untuk membentuk dan
mewujudkan keadaan yang kita idam-idamkan selama
ini.
E-mail Pengirim: my_away@engineer.com
Tanggal:
24 Februari 2002
Nama:
Farrah
Dari: Bogor
Saya: Mahasiswa IPB
Aspirasi /
Informasi: Kualitas SDM dan pendidikan merupakan
2 sisi mata uang yang tidak dapat dipisahkan.
Pada akhir tahun 2001 Saya mengadakan penelitian di
5 SMK-TI Bogor, di mana tingkat tawuran siswanya
tergolong tinggi. Yang paling memprihatinkan
adalah bahwa di sekolah-sekolah itu pendidikan
merupakan sebuah industri, sehingga sekolah tidak lagi
memperhatikan mutu dan hanya mengejar keuntungan
semata. Implikasinya, mutu pendidikan yang
dihasilkan sangat rendah dengan keluaran siswa-siswa
yang apatis, putus asa dan merasa tidak memiliki
masa depan. Permasalahan utama yang muncul adalah
rendahnya kualitas SDM dari segi MORAL... Dari
hasil penelitian saya tercatat 44% dari 903 siswa
pernah menggunakan senjata berbahaya, mulai dari
gir besi sampai cel!
urit!!! Solusinya, tidak dapat hanya diserahkan
pada institusi sekolah. Karenanya, saya dan
teman-teman mahasiswa IPB akan mulai bergerak untuk
mulai memberikan intervensi dari segi moral. Anda
ingin memberi kontribusi? Bergabunglah bersama
kami.
E-mail Pengirim: farrah@eramuslim.com
Tanggal:
22 Maret 2002
Nama: Sudi
Dari: Jember / Jawa Timur
Saya: Guru Jember
Aspirasi / Informasi:
Disamping jam wajib mengajar, guru-guru hendaknya diberi beban mengajar
wajib ekstrakurikuler. Kegiatan tersebut dilakukan sore hari, sehingga
guru dan siswa berada di sekolah mulai pukul 7.00 sampai 16.00 atau
17.00. Kegiatan ekstrakurikuler tersebut misalnya: Keagamaan, IPTEK,
Keterampilan/Wirausaha, Olahraga, dan Kesenian, yang masing-masing jenis disesuaikan dengan potensi sekolah. Siswa wajib mengikuti 5 jenis kegiatan ekstrakurikuler selama 1 minggu.
Kegiatan ini untuk menghindari guru mencari kerja sambilan disamping
mengajar. Masih banyak guru yang menjadi tukang ojek disamping mengajar, masih banyak guru yang menjadi makelar penjualan sepeda motor setelah mengajar, dan sebagainya. Sedangkan siswa sepulang sekolah mencari kegiatan-kegiatan luar sekolah yang belum tentu berguna bagi masa depannya.
Dari kegiatan mengajar ekstrakurikuler inilah diperhitungkan sebagai
jam tambahan guru untuk mendapatkan TUNJANGAN EKSTRAKURIKULER.
Dengan demikian jam kerja guru bertambah di sekolah, penghasilanpun
bertambah. Bagi siswa, akan mendapatkan pendidikan plus, dan kenakalan
remaja bisa dicegah, pendidikan di Indonesia akan maju. Akhirnya bangsa
Indonesia akan maju. Bangsa yang tinggi tingkat pendidikan masyarakatnya akan menjadi subjek dalam era globalisasi ! bahkan akan menguasai dunia !
E-mail Pengirim: isdaf@yahoo.com
Tanggal: 17 April 2002
Nama:
ferry
purwanto
Dari: klaten,jawa tengah
Saya: Siswa SMU
N 1 KARANGANOM
Aspirasi / Informasi: Saya
sebagai siswa dari karanganom sangat prihatin dengan
sekolah kami karena di sekolah kami tidak ada
fasilitas internet mungkin mengingat sekolah kami
berada di desa. Sebenarnya kami ingin sekali
menikmati fasilitas internet yang diberikan.komputer
juga bisa dibilang kurang lengkap. Baru tahun ini
sekolah kami dapat memenuhi perlengkapan
tersebut. Tidak banyak yang kami harapkan karena kami
hanyalah siswa. Kami hanya dapat menyampaikan informasi
tersebut. Saya adalah siswa SMU jurusan
bahasa. Thanks for your attention to read my article. And i
hope this article can be read by my president and
minister of education. Agar menindak lanjutinya
LET`S MAKE OUR COUNTRY PEACE. Dan kami optimis bahwa
INDONESIA tercinta ini dapat maju melalui pendidikan. AMIN
E-mail Pengirim: pah_poh@plasa.com
Tanggal: 27 APRIL
2002
Nama:
ardiyanto radjab
Dari: makassar/sul-sel
Saya:
Mahasiswa universitas 45 makassar
Aspirasi /
Informasi: Menuntut ilmu merupakan salah bentuk
bentuk mengisi dan mempertahankan kemerdekan
indonesia, tetapi ironisnya pada bidang ini terkadang
dinafikkan oleh pemerintah contohnya pengalokasian
APBN indonesia hanya sekitar 13% dari APBN
indonesia. apakah dengan dana yang sekian akan memenuhi
kebutuhan pendidikan hari ini karena kami yang
sementara menempuh dunia pendiddikan sekarang ibarat
sebuah barang produksi yang siap dipasarkan
tetapi ketika dipasarkan lantas tidak memenuhi
kebutuhan pasar maka itupun akan kembali kepada
pemerintah itu sendiri, harapan saya mudah-mudahan
pemerintah bisa mempertimbangkan pengalokasian tersebut
akar kami selaku generasi mudah nantinya mampu
bersaing orang-orang dari luar.
E-mail Pengirim: ardi.fekon@mahasiswa.com
Tanggal: 6 mei 2002
Nama:
Novitasari
Dari: Jakarta
Saya: Mahasiswa
Aspirasi / Informasi: Sistem pendidikan Indonesia memang
perlu dibenahi. Selama ini kita selalu
menitikberatkan pada sistem hapalan dimana setiap siswa
diharapkan dapat menghapal berbagai hal di luar
kepala. Padahal akan lebih baik bila para siswa lebih
memahami konsep sehingga apa yang telah
dipelajarinya dapat terus dimengerti sampai kapan pun.
Selain itu, kita perlu mengembangkan kemampuan
mengeluarkan pendapat dan berbicara di depan publik.
Hal ini dapat dilakukan dengan diadakannya
presentasi di kelas. Misalnya para siswa diminta untuk
membuat suatu karangan (paper), lalu hasil dari
paper tersebut dipresentasikan di depan kelas.
Presentasi tersebut memuat apa yang telah dilakukan
dan apa yang telah dipelajari dari pembuatan paper
tersebut. Presentasi tersebut didahului dengan "Introduction"
yang meliputi latar belakang dan alasan mengapa
siswa memilih topik tertentu untuk paper-nya.
Selanjutnya, "Body of Presentation" yang membahas
masalah atau topik tersebut. Terakhir, "Conclusion"
yang memuat kesimpulan, aplikasi, dan suatu
pernyataan yang dapat mengingatkan pendengar tentang apa
yang telah disampaikan oleh pembicara (memorable
statement). Presentasi dapat melatih siswa untuk
cakap berbicara di depan umum dengan menggunakan
bahasa Indonesia yang baik dan benar. Selain itu
untuk melatih keberanian siswa dalam mengeluarkan
pendapat dan melatih siswa untuk menghargai
pendapat orang lain. Latihan presentasi semenjak dini
akan menjadi hal yang bermanfaat bagi siswa
tersebut di kemudian hari baik dalam kehidupan
bermasyarakat maupun dalam dunia kerja yang akan semakin
kompetitif.
E-mail Pengirim: novita_9040@yahoo.com
Tanggal:
14 Mei 2002
Nama:
Cilcul
Dari: Jakarta
Saya: Staf Teknologi
Jakarta
Aspirasi / Informasi: Saya bingung dengan kurikulum
pendidikan di negara kita sekarang, apakah pada
saat era perdagangan bebas nanti para sdm
masyarakat indonesia min 50 % sudah siap menghadapi & siap
bersaing dengan kualifikasi yang ada seperti saat
ini?
saya melihat sistem pendidikan kita tidak
proporsional sesuai dengan namanya tapi prateknya tidak
'ready to use' sehingga begitu banyak sekali para
lulusan baik SLTA maupun dari PTN/PTS negara kita
yang berstatus pengangguran, karena ijasah mereka
tidak menjamin bahwa mereka setelah lulus kuliah
akan langsung bekerja padahal mereka telah
menghamburkan sangat banyak uang untuk biaya gedung
kuliah, spp, dsb. sedangkan perusahaan2 membutuhkan
sdm yang betul2 berkualitas dengan bukti bukan
hanya dengan ijasah yang berasal dari kampus beken.
bahkan para penyedia training2 raksasa yang
menguasai TI dunia (seperti Microsoft Indonesia,
Oracle Indonesia, Cisco Indonesia, dsb.) yang terdapat
di negara kita terlalu memanfaatkan hanya untuk
bisnis semata dengan biaya training yang hanya
perusahaan besar yang mampu membiayainya. Mereka
tidak membantu program 'Mencerdaskan kehidupan
bangsa' seperti dalam UUD45.
Yang paling menyedihkan dinegara kita terdapat
adalah adanya tingkatan2/level2/kasta2/kelas2
tersendiri sehingga terdapat diskriminasi sosial,
perbedaan perlakuan dan fasilitas serta kemudahan
bagi para lulusan yang berasal dari kampus
negeri/swasta, bonafit atau tidak, dsb.
Sumber2 informasi yang memberikan
informasi/tutorial/pelatihan/pelajaran bagi masyarakat indonesia
secara cuma2/non-profit sangat minim, padahal
dulu TPI sudah mengadakan program pendidikan sekolah
yang sangat membantu, kita dapat menyebarkan
informasi artikel2 pelajaran sekolah melalui
pendidikan jarak jauh, e-learning, milis berbahasa
indonesia gratis dengan melibatkan para pakarnya,
alamat internet yg menyediakan artikel2 gratis, dsb.
walau negara kita miskin sebaiknya bagi yang
memiliki gaji diatas 50 jt dikenakan pajak untuk biaya
pendidikan 10%/orang/tahun, untuk gaji >100 jt
bisa pajak pendidikan lebih besar lagi dan bagi
para masyarakat (tua/muda, kaya/miskin) hendaknya
gigih dan tekun memanfaatkan fasilitas pendidikan
agar tidak mubajir percuma. serta sistem kasta2 di
sekolah2 maupun dikampus2 agar dihapus semua
fasilitas dibuat sama sehingga standar pendidikan
menyebar diseluruh indonesia, dan untuk para sdm2
bumn/swasta agar tidak membedakan para alumni
kampus2 favorit seperti itb, ui, dsb atau kampus2 orang
kaya, dsb yang betul2 dilihat adalah apakah lulusan
tsb qualified dan sesuai dengan jurusan ke
pekerjaan yang akan dihandle atau tidak.
Sekian, semoga bermanfaat dan diteruskan ke
presiden serta dpr/mpr.
E-mail Pengirim: cilcul@witty.com
Tanggal:
17 May 2002
Nama:
valentina
Dari: yogyakarta
Saya: Mahasiswi MIPA Pend
Bio UNY
Aspirasi / Informasi: HIDUP PENDIDIKAN!
sekolah adalah pelajaran hidup. bukan sekedar
pemenuhan kognitif semata. sekolah adalah alat untuk
mempersiapkan hidup sekarang maupun akan datang,
belajar untuk menjadi dewasa dalam bersikap dan
berfikir.
sekolah bukanlah subject matter but only
equipment maksudnya sekolah bukanlah tujuan tapi hanya
alat jadi jangan menuhankan sekolah apalagi
menuhankan evaluasi, artinya kita sekolah jangan
untuk mengejar nilai hasil evaluasi.
KITA CUKUP MENUHANKAN TUHAN.
berapapun hasil evaluasi yang kita dapat yang
paling penting adalah proses untuk mendapatkan
pengalaman itu. yaa kan!
E-mail Pengirim: limiyya@yahoo.com
Tanggal:
20 mei 2002
Nama:
ARWAN
Dari: SOLO
Saya: Siswa SMU SUKOHARJO
Aspirasi / Informasi: SAYA CUMA MAU KASIH PENDAPAT
BAGAIMANAPUN YANG KITA UNGKAPKAN KALAU NGGAK
DITERUSKAN KE ORANG2
ATAS PERCUMA POKOKNYA YANG UTAMA PETINGGI KITA
ITU TAHU PIKIRAN KITA DAN MEREKA SUNGGUH2 MAU
MENGUPAYAKAN PERMINTAAN KITA!!!
E-mail Pengirim: onmyline@plasa.com
Tanggal:
24 MEI 2002
Nama:
eko
hassep
Dari: Jakarta
Saya: Masyarakat
Jakarta
Aspirasi / Informasi: Kebijakan otonomi
pendidikan yang dilaksanakan seiring dengan
otonomi daerah merupakan suatu langkah yang diharapkan
dapat memperbaiki pendidikan di Indonesia.
Reformasi di bidang pendidikan selain didukung
perubahan kurikulum yang memberikan live skill pada anak
didik tetapi juga harus diperhatikan bahwa
tercapainya kurikulum tersebut sangat tergantung
kemampuan tenaga pendidik yang bersifat aktif dan
kreatif dalam mengembangkan program pendidikan di
sekolah.
Agar tenaga pendidik dapat lebih produktif maka
kesejahteraan mereka harus diperhatikan, dan untuk
itu tidak perlu menjadi tanggung jawab pemerintah
baik di pusat maupun daerah tetapi menjadi
tanggung jawab kita bersama masyarakat yang peduli akan
kemajuan pendidikan.
Dengan adanya kerjasama yang baik antara sekolah
dan masyarakat peduli pendidikan yang ada di
sekitar sekolah maka pembinaan pendidikan untuk
mencetak generasi muda yang mampu bersaing dalam
lapangan kerja di era globalisasi akan dapat
terwujud.
E-mail Pengirim: ekohassep@yahoo.com, ekohassep@i2.co.id, ekohassep@hotmail.com
Tanggal: 24 Mei 2002
Nama: Prof.Drs
Hartono Kasmadi,MSc
Dari: Semarang, Jawa
Tengah
Saya: Dosen FIS UNNES,Semarang
Aspirasi /
Informasi: Salam Saya megharap tiga hal reformasi pendidikan di
tanah air kita tercinta.
1)Segera amandemen
Undan-Undang tentang Sistem Pendidikan Nasional;
2)pelaksanaan wajib belajar 9 tahun harus terlaksana
dengan benar dan sungguh-sungguh. Tidak ada keharus
tes masuk untuk SLTP. setiap lulusan SD berhak ke
SLTP, dengan sistem otonomi dan raynisasi,
pemerintah membiaya seluruh aktivitas pendidikan ni.
Pertegas jalur SMU (akademis), SMK (keahlihan
menengah), sehingg kebutuhan untuk alur PT dan tenaga
kerja menengah menjadi jelas.
3) mengendalian
kurikulum, tidak sekedar tambal sulam, serta
aspirasi menyusunan. Masyarakat dan sekolah menjadi
binggung.
Terjadi jalur yang sejalan antar pengembangan kurikulum- buku referensi
belajar-mengajar-pengajar yang kompeten-anak didik yang
proaktif.Pengembangan Sumberdaya pendidik/guru mungkin sudah
tidak lagi dengan penataran-penataran yang
sepintas lalu gagah, akan tetapi tidak banyak
manfaatnya. Karena selalu saja ada kesenjangan yang
signifikan antara hasil penataran, dengan perkembangan iptek dan
fasilitas .
Lebih baik berikan semua kewajiban
dan kewenangan pada lembaga kependidikan sehingga
dalam mendidik para calon guru akan lebih akurat
dan efektif. Disamping itu di lapangan perlu
ditinjau kembali jam wajib mengajar guru. Yang paling
efisien jika guru hanya berkejiban maksimal 12
jam/minggu, sehingga ada waktu belajar, membaca,
dan sebagainya.
Mungkin akan lebih efisien dalam pengembangan
Sumber Daya guru :
1. Hanya ada 3 Pusat pendidikan
Guru untuk semua jenjang;
2. Mungkin perlu di
kembalikan pada sistem lama bahwa untuk pendidikan
guru di mulai dari SPG sampai dengan Pendidikan
tinggi;
Konsep secara parsial dan lengkah insyaalah
akan saya tulis pada artikel yang khusus. Salam
buat semua Guru. Nasib anda dan harga diri anda
hanya anda yang menetapkan.
E-mail Pengirim: